Bansigom Donja keu Aceh

Deklarasi Kampung Damai di Bener Meriah

Deklarasi Kampung Damai di Bener Meriah
Rate this post
Para tokoh masyarakat di Bener Meriah dan Ibu-ibu KPCD melepaskan merpati perdamaian pada saat Deklarasi Kampung Damai di lapangan Simpang Tiga-Redelong, Kec. Bukit, Bener Meriah, Rabu 22/12/10.[Foto/Junaidi Hanafiah].

Sabtu 19/02/2011

Siaran Pers

Deklarasi Kampung Damai di Bener Meriah

KPCD Ajak Siarkan Hakikat Perdamaian

BENER MERIAH: Komunitas Perempuan Cinta Damai (KPCD) bertekad untuk terus mengawal perdamaian Aceh dengan semangat persaudaraan. Hal ini disampaikan melalui deklarasi ‘Kampung Damai’ yang berlangsung Rabu, 22 Desember 2010 di lapangan Simpang Tiga-Redelong, Kecamatan Bukit, Bener Meriah.

Deklarasi dibacakan oleh tiga tokoh perempuan dari tiga suku, yaitu Ibu Rosmawati (Gayo), Ibu Ramlah (Jawa) dan Zubaidah (Aceh). Sebelum deklarasi dibacakan, KPCD menyerahkan 5 burung merpati kepada para tokoh masyarakat dari unsur adat, ulama dan kepolisian untuk kemudian bersama melepaskannya setelah pembacaan deklarasi.

Adapun tiga poin deklarasi adalah kami perempuan Bener Meriah, sepenuh hati, bersama-sama akan terus-menerus menyiarkan hakikat perdamaian dari keluarga sampai masyarakat luas; kami perempuan Bener Meriah, menolak setiap bentuk diskriminasi, adu domba dan segala usaha yang memicu munculnya konflik dalam masyarakat; dan kami perempuan Bener Meriah, menyerukan pada semua lapisan masyarakat agar menghilangkan rasa curiga, menghasut dan segala sikap permusuhan terhadap masyarakat dengan alasan perbedaan ras, bahasa, kebudayaan, bahkan pandangan politik.  

Ketua KPCD, Dwi Handayani saat membuka acara mengatakan deklarasi ini merupakan langkah awal KPCD dalam mengawal perdamaian, “Mari bersama kita jaga perdamaian yang telah tercipta demi kemaslahatan umat”. Hal yang sama juga disampaikan Muhammad Jafar, Ketua Mukim se-Bener Meriah ini menyatakan dukungannya untuk menghapus segala perbedaan etnis dan kelompok di Gayo, “Di Bener Meriah, sejak saya lahir, semua Aceh dan Jawa sudah menjadi Gayo, karenanya mari kita bersatu”.

Koordinator KontraS Aceh, Hendra Fadli yang turut membuka acara mengatakan kesepakatan damai yang diprakarsai oleh para pihak merupakan  tahapan strategis dari perwujudan perdamaian abadi di Aceh yang patut disyukuri. “Namun pada pelaksanaannya, penyusunan agenda perdamaian sering kali mengabaikan tuntutan masyarakat akar rumput, terutama masyarakat marginal dan kelompok rentan. Disinilah diperlukan pilar ketiga sebagai penyokong damai (setelah para pihak), yaitu masyarakat sipil agar agenda-agenda kemanusiaan dan kepentingan masyarakat dapat terakomodir dalam implementasi perdamaian. KPCD adalah salah satu insiatif penguatan pilar ketiga tersebut”, kata Hendra.

Pada saat peluncuran buku ‘Ageh si belem genap, si nge munge’ (yang sudah-sudahlah, jangan terulang lagi) yang berisikan pengalaman Ibu-ibu KPCD selama mengikuti program perdamaian komunitas. Asisten I Bupati Bener Meriah, Tasnim Bahtiar, M. Hum, Wakil Ketua DPRK Bener Meriah, Jony Suryawan dan Kapolres Bener Meriah, AKBP Hari Apriyono sama-sama memberikan apresiasi atas partisipasi Ibu-ibu yang tergabung dalam KPCD dalam mengembangkan kerja-kerja perdamaian di komunitas, dan program ini diharapkan dapat diperluas dan dapat dikembangkan di tempat yang lain.

Acara yang dihadiri sekitar 500 warga dan para tokoh masyarakat dari Kecamatan Bukit, Bandar dan Permata ini juga dimeriahkan dengan pagelaran seni dari tigas etnis berupa kolaborasi tari saman, guel dan perahu layar. Acara ini didukung oleh KontraS Aceh, RPuK, Redelong Institute, SMABEM, IKAPEDA, LBH pos Takengon, Jangko, H2C, BEM UGP, Balai Syura dan Development and Peace. (KA)

 

Deklarasi
Perdamaian Lintas Etnis

Menimbang semua manusia memiliki martabat dan hak yang sama dalam pergaulan dan persaudaraan, tanpa pengecualian apapun termasuk ras, jenis kelamin, bahasa, kebudayaan, bahkan pandangan politik. Tidakseorang pun pantas diperlakukan secara diskriminasi. Serta negara memberikan jaminan kebebasan berkumpul dan berserikat.

Mengingat konflik telah berdampak buruk pada kehidupan, menghancurkan sistem kekerabatan, gotong royong, sikap toleran, aneka kearifan sosial bahkan perekonomian. Perdamaian yang telah dijalankan pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), merupakan langkah awal yang harus dijadikan dasar setiap warga negara untuk saling bahu-membahu menegakkan demokrasi dan keadilan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, kami deklarasikan:

1.       Kami perempuan Bener Meriah, sepenuh hati, bersama-sama akan terus-menerus menyiarkan hakikat perdamaian dari keluarga sampai masyarakat luas.

2.       Kami perempuan Bener Meriah, menolak setiap bentuk diskriminasi, adu domba dan segala usaha yang memicu munculnya konflik dalam masyarakat.

3.       Kami perempuan Bener Meriah, menyerukan pada semua lapisan masyarakat agar menghilangkan rasa curiga, menghasut dan segala sikap permusuhan terhadap masyarakat dengan alasan perbedaan ras, bahasa, kebudayaan, bahkan pandangan politik.  

22 Desember 2010

Lapangan Simpang Tiga, Redelong, Bener Meriah

Komunitas Perempuan Cinta Damai (KPCD)

Dwi Handayani
Ketua

Deklarasi Kampung Damai di Bener Meriah
Rate this post
0

Comments

comments


Loading...

24. November 2017

Clear all