Bansigom Donja keu Aceh

Dibalik Keindahan Jilbab Muslimah

Dibalik Keindahan Jilbab Muslimah
Rate this post
Asma Abdul Hamid Wanita Muslimah di  Denmark.         [Foto http://asmaa.dk/].

WAA News – Rabu 13/05/2009

OPINI – Pada dekade terakhir ini, jilbab telah menjadi satu topik yang ramai dibicarakan di berbagai Negara seirin dengan berkembang pemeluk agama islam di berbagai belahan dunia diiringi dengan adanya kesadaran masyarakat islam untuk menjalankan perintah agama terutama bagi muslimah untuk memakai jilbab.

Maraknya busana muslimah bukan hanya di Negara mayoritas muslim seperti di ditimur tengah seperti Negara Saudi arabiya, yaman, suria, Qatar, dan lainnya, dan asia tenggara seperti Indonesia, Malaysia, brunai, dan lainnya, bahkan di Negara barat yang minoritas muslimpun sudah semarak dalam memakai busana muslimah dikalangan wanita seperti di prancis, denmark da Negara lainnya padahal banyak Negara yang minoritas muslim melarang untuk memakai jilbab terutama dilembaga pendidikan.

Seperti di Perancis contohnya. Pada awal dekade 1990-an, Menteri Dalam Negeri Perancis telah memerintahkan pelarangan penggunaan pakaian Islami oleh para pelajar muslimah di sekolah-sekolah Perancis sebagai akibat dari maraknya para muslimah memakai jilbab di sekolah.

Menurut para pengamat, reaksi ekstrim terhadap jilbab yang ditunjukkan oleh pemerintah Perancis sesungguhnya dimaksudkan untuk menutup-nutupi krisis-krisis politik dan sosial lainnya di Perancis. Francois Fillon yang sepatutnya memerangi ketidakadilan dalam pelayanan pendidikan, kebobrokan moral, dan kekosongan jiwa pelajar Perancis, malah menentang jilbab yang menurutnya adalah sebuah simbol agama.

Selain bahwa sebenarnya jilbab bukan hanya sekedar simbol agama, melainkan sebuah tindakan yang amat bermanfaat bagi ketenteraman sosial, sesungguhnya pemakaian jilbab adalah hak pribadi seseorang dan menurut asas kebebasan di Perancis, pemakaian jilbab sama sekali tidak melanggar hak orang lain dan karenanya, boleh dipakai oleh siapa saja di negara ini.

Lucette Valensi, dosen perempuan di sekolah tinggi ilmu sosial Paris mengatakan, “Perintah Al Quran untuk menjaga kemuliaan dan pakaian ditujukan baik kepada lelaki, maupun perempuan. Perintah ini sangat jelas tercantum dalam Al-Quran, dimana perempuan mukmin tidak dibenarkan untuk memperlihatkan perhiasannya kecuali beberapa bagian tertentu.

Sementara itu, kaum laki-laki yang beriman juga diperintahkan untuk menahan pandangannya dan memelihara dirinya. Jilbab merupakan semacam pelindung bagi kaum perempuan untuk menjaga harga dirinya sendiri dan harga diri keluarganya.” Valensi menambahkan, “Al Quran juga menyatakan bahwa wanita tidak perlu senantiasa berjilbab. Mereka boleh tidak berjilbab ketika bersama suami, ayah, ayah mereka, putera-putera, dan saudara lelaki, putera-putera saudara lelaki, atau saudara perempuan mereka, dan juga di depan anak-anak lelaki yang belum baligh.”

Fatimah Lensel, seorang pakar Islam Austria berkata, “Penggunaan jilbab bagi wanita muslimah merupakan sebuah nilai dan sebuah pilihan yang murni.” Fatimah Harnesi, salah seorang wanita Austria yang baru memeluk agama Islam berkata, “Keterbatasan jilbab, merupakan nilai yang lebih tinggi dari kebebasan biasa manusia, karena pakaian agama merupakan kunci kebebasan dari penjara hawa nafsu bagi perempuan dan masyarakat.

Hari ini saya memahami bahwa jilbab merupakan pelindung perempuan. Jilbab menghalangi penjualan harga diri dan menghalangi diri dari tatapan atau perhatian orang asing. Kenyataannya, jilbab yang tidak memperdagangkan fisik perempuan, merupakan perhiasan nilai bagi jiwa dan kemanusiaan seseorang. Karena itu, jilbab sesungguhnya adalah pakaian yang mulia dan terpuji.”
Di denmark juga masalah jilbab sudah masuk sampai ke parlemen.

Menurut keterangan dari Tarmizi Age dari denmark pada tanggal 8 April 2008 Dewan Parlemen Denmark (Folketinget) memperbolehkan anggota parlemenmemakai jilbab dengan syarat jika orang itu sudah memakainya saat dipilih oleh pemilih di Denmark.

Dewan parlemen memperbolehkan segala macam topi atau kain penutup kepala, tetapi disyaratkan harus bisa terlihat mukanya. Jadi, misalnya burka atau niqab tidak boleh dipakai oleh para anggota parlemen. Keputusan tersebut diambil dewan parlemen, karena perempuan berjilbab yang bernama Asmaa Abdol Hamid dipilih untuk menjadi penganti anggota parlemen Johanne Schmith Nielsen dari partai Enhedslisten.

Hikmah berjilbab bagi muslimah.

Sebagaimana kita ketahui, setiap ketetapan dari syari’at allah termadap manusia adalah untuk kesejahteraan dan keselamatan manusia itu sendiri. Begitu juga tentang pewajiban memakai jilbab bagi muslimah adalah demi menjaga kehormatan dan harga diri seorang wanita muslim. Allah menegaskan didalam al-qur’an surat al-ahzab ayat 59:
“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dari ayat diatas, sangatlah jelas hikmah yang terkandung di balik perintah untuk memakai busanah muslimah atau memakai jilbab. Diantaranya adalah: Sebagai identitas seorang muslimah.

Allah memberikan kewajiban untuk berjilbab agar para wanita mukmin mempunyai ciri khas dan identitas tersendiri yang membedakannya dengan orang-orang non muslim. Dalam sebuah hadits dikatakan : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud)

identitas sangat lah penting dalam kehidupan yang dapat membedakan antara yang satu dengan lainnya. Apabila seseorang kehilangan identitas dan ciri khasnya maka hilanglah wibawanya dalam kehidupannya.

Sebuah bangsa yang tidak memeliki identitas dia tidak akan memiliki wibawa mata bangsa lainnya. Begitu juga dengan wanita muslimah dengan jilbabnya yang anggun dapat membedakan antara dirinya dengan wanita jahiliyah atau wanita kafir.
Meninggikan derajat wanita muslim (muslimah).

Dengan mengenakan jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak membuka auratnya di sembarang tempat, maka seorang muslimah itu bagaikan sebuah batu permata yang terpajang di etalase yang tidak sembarang orang dapat mengambil dan memilikinya. Dan bukan seperti batu yang berserakan di jalan dimana setiap orang dapat dengan mudah mengambilnya, kemudian menikmatinya, lalu membuangnya kembali.

Allah berfirman :”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.An-Nahl(16):97)

Mencegah dari gangguan laki-laki tak bertanggung jawab.

Hal ini mudah dipahami karena dengan seluruh tubuh tertutup kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak akan mungkin ada laki-laki iseng yang tertarik untuk menggoda dan mencelakakannya selama ia tidak berperilaku yang berlebih-lebihan. Sehingga kejadian-kejadian seperti perkosaan, perzinaan, dsb dapat dihindarkan. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’ (17) : 32)

Bagaimanapun dalam kehidupan harus kita akui sangat sedikit sekali terjadi kejatan seks dan pergaulan bebas terhadap seorang wanita yang memakai busana muslimah secara sempurna. Karena allah telah menjamin mereka tidak akan diganggu seperti firmannya dalam ayata diatas. Akan tampak padanya cirri kesalehan yang membuat para lelaki segan untuk mengganggunya.

Akan tetapi bagi wanita yang mengumbr auratnya, mereka dengan mudah diperdaya oleh lelaki jalang seperti yang kita lihat di berbagai media tentang kejahatan yang dilakukan mulai dari pemerkosaan sampai kepada pelacuran yang kita lihat pelakunya dari dari wanita yang berpakaian seksi.

Jilbab merupakan lambang wanita moderen.

Kita dapat melihat bahwa berpakaian yang rapi dan memakai jilbab bagi wanita muslimah merupakan model pakaian moderen yang tidak pernah dipraktekkan oleh ummat sebelumnya. Ini dapat dibuktikan melalui fakta sejarah bahwa islamlah yang menganjurkan wanita muslimah untuk memakai jilbab untuk menjaga kehormatan dan harga dirinya.

Hanya saja sekarang banyak wanita yang berpakaia setengah telanjang seperti model wanita primitive suku dayak diiriyan jaya atau seperti wanita yang di zaman dulu yang masih setengah telanjang walaupun sudah hidup didunia moderen. Akan tetapi dengan memakai busana yang baik akan tampak kemoderenan dan keanggunan di manapun.

Karena diantara hikmah itulah dan sesuai dengan fitrah manusia yang malu untuk menampakkan auratnya “kemaluannya”. Banyak dari wanita barat yang tertarik dengan islam sehingga islam berkembang di sana.

Diantara mereka berkomentar dan mengatakan seperti yang dilakukan oleh Lucette Valensi, dosen perempuan di sekolah tinggi ilmu sosial Paris mengatakan, “Perintah Al Quran untuk menjaga kemuliaan dan pakaian ditujukan baik kepada lelaki, maupun perempuan. Perintah ini sangat jelas tercantum dalam Al-Quran, dimana perempuan mukmin tidak dibenarkan untuk memperlihatkan perhiasannya kecuali beberapa bagian tertentu. Sementara itu, kaum laki-laki yang beriman juga diperintahkan untuk menahan pandangannya dan memelihara dirinya. Jilbab merupakan semacam pelindung bagi kaum perempuan untuk menjaga harga dirinya sendiri dan harga diri keluarganya.”

Seorang wanita bernama Fatimah Lensel, salah seorang pakar Islam Austria berkata, “Penggunaan jilbab bagi wanita muslimah merupakan sebuah nilai dan sebuah pilihan yang murni.” . Fatimah Harnesi, salah seorang wanita Austria yang baru memeluk agama Islam berkata, “Keterbatasan jilbab, merupakan nilai yang lebih tinggi dari kebebasan biasa manusia, karena pakaian agama merupakan kunci kebebasan dari penjara hawa nafsu bagi perempuan dan masyarakat.

Hari ini saya memahami bahwa jilbab merupakan pelindung perempuan. Jilbab menghalangi penjualan harga diri dan menghalangi diri dari tatapan atau perhatian orang asing. Kenyataannya, jilbab yang tidak memperdagangkan fisik perempuan, merupakan perhiasan nilai bagi jiwa dan kemanusiaan seseorang. Karena itu, jilbab sesungguhnya adalah pakaian yang mulia dan terpuji.”
Begitulah pujian mereka baik dari muslimah maupun non muslim tentang keberadaan jilbab yang menjadi perisai dan lambing bagi wanita muslimah.

Dibalik jilbabnya yang indah, anggun dan menawan ternyata mengadung banyak hikmah dan nilai moral yang tinggi walaupun para orientalis dan kaum sekuler yang anti islam menantangnya.

Penulis adalah Safrizal July, S.Pd.I Aktivis World Achehnese Association (WAA)

Dibalik Keindahan Jilbab Muslimah
Rate this post
0

Comments

comments


Comments to Dibalik Keindahan Jilbab Muslimah

Loading...

18. October 2017

Clear all