Bansigom Donja keu Aceh

Kebebasan Insan Pers di Aceh di Halang Aparat Negara Indonesia

Kebebasan Insan Pers di Aceh di Halang Aparat Negara Indonesia
Rate this post

Gambar yang berhasil diabadikan jurnalis (Foto kiriman Yayan)

BANDA ACEH – Senin siang, sekitar pukul 11.00 lebih, Iqbal dan beberapa jurnalis lainnya bergerak menuju kawasan simpang 5(lima) Banda Aceh, dimana saat itu akan terjadi aksi demo dari mahasiswa. Demo mahasiswa itu pada mulanya masih terkendali, namun, beberapa saat kemudian keadaan menjadi berubah kacau, karena aparat keamanan, dalam hal ini polisi, berkeinginan membubarkan dan melarang aksi tersebut.

Perang mulutpun terjadi antara Polisi dengan para pendemo, Iqbal salah seorang wartawan yang ingin merekam semua moment ini ke dalam tape recordernya turut menerima tindakan kasar dari aparat. Entah apa alasannya, tiba-tiba seseorang berpakaian sipil merangkulnya dari belakang dan sedikit menyeretnya, hingga Iqbal terjatuh.

Setelah terjatuh, orang yang mendekap Iqbal dari belakang tadi langsung menghilang, tapi saat kejadian itu berlangsung, ada teman-teman jurnalis yang berhasil mengabadikannya, yang kemudian membuat kita tahu, yang menghilang tadi adalah seorang aparat, berdasarkan dari sepucuk pistol yang terselip dipinggangnya.

Kemudian Iqbal bangkit dan merasa emosi karena ia telah diperlakukan tidak adil, akhirnya dia mengambil sesuatu dan melempar ke arah seseorang yang tadi. Tetapi lemparan Iqbal itu malah mengenai seorang Provost. Provost itu marah-marah dan membentak Iqbal, Siapa kamu? Iqbal menjawab, Saya dari media, pak, mana buktinya lanjut Provos itu, Iqbal pun menunjukkan id yang digunakannya, ini pak id nya. Ternyata bukti itu tidak bisa membuat Provost itu percaya dan terus menanyakan hal yang sama, iqbal pun turut menjawab hal yang sama, sambil menunjukkan id card dan tape recordernya, namun kemudian provost tersebut menepis kepala Iqbal, sekalipun bukan pukulan yang keras tapi ia cukup membuat Iqbal shock. Selanjutnya Iqbal pun menepi dari lokasi perang mulut antara mahasiswa dan pendemo.

Setelah aksi berhasil dibubarkan polisi, Iqbal pun kembali melakukan tugasnya meliput kunjungan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Lapangan Blang Padang Banda Aceh.. Untuk saat ini, seperti yang sudah disampaikan oleh pimpinan Radio Antero, Iqbal memang tidak ingin meneruskan kasus ini kepada pihak Poltabes Banda Aceh. Kendati demikian, AJI tetap memberi dukungan moral kepada Iqbal untuk bisa tetap semangat bekerja sebagai jurnalis di Banda Aceh.

AJI juga akan mendukung Iqbal, jika Iqbal mengubah keputusannya untuk mengajukan pelaporan kasus ini kepada pihak kepolisian, atas tindakan yang tidak menyenangkan. Menyikapi hal ini, sesungguhnya AJI Kota Banda Aceh, sudah berkali-kali meminta kepada petugas keamanan untuk tidak menggunakan dan melakukan sikap arogansi terhadap masyarkat sipil, termasuk jurnalis. Sudah tugas dari seorang jurnalis, untuk melakukan pencarian informasi di lapangan dan kemudian membuat laporannya. Setiap jurnalis yang sah, (dalam hal ini memiliki identitas yang jelas tentang status dan media tempatnya bekerja) itu dilindungi oleh undang-undang.
Sangat disayangkan, dimana jajaran tertinggi polri di Aceh, Kapolda dan Kapoltabes sedang serius untuk merubah citra dan image polisi ditengah masyarakat, tapi prajurit dilapangan tidak menghiraukannya.

AJI juga menyayangkan sikap-sikap aparat yang tidak berbaju dinas dilapangan yang berbuat seenaknya dan terkesan tidak profesional dan tidak bertanggungjawab. AJI juga akan mengirimkan surat protes kepada pihak Poltabes Banda Aceh terkait kasus pemukulan Iqbal Syah Putra saat meliput aksi demo damai yang dilakukan oleh mahasiswa se- BEM Banda Aceh di simpang 5(lima Banda Aceh), pada aanggal 23 Februari 2009, sekitar pukul 11.00 wib, tulis Daspriani Y Zamzami sebagai ketua Divisi Advokasi AJI Kota Banda Aceh kepada WAA[Tarmizi Age]

Kebebasan Insan Pers di Aceh di Halang Aparat Negara Indonesia
Rate this post
0

Comments

comments


Loading...

24. November 2017

Clear all