Bansigom Donja keu Aceh

Mengubah Perspektiv Dalam Membangun Kesehatan Jiwa di Aceh

Mengubah Perspektiv Dalam Membangun Kesehatan Jiwa di Aceh
Rate this post
Aiyub Ilyas adalah mahasiswa Hedmark Univesity College Norwegia dan salah seorang anggota WAA [Foto/Dok/WAA].

WAA News – Rabu 08/12/2010

Mengubah Perspektiv Dalam Membangun Kesehatan Jiwa di Aceh

OPINI

Oleh: Aiyub Ilyas

Permasalahan

Konflik bersenjata selama 29 tahun yang dikuti tsunami telah meningkatkan penderita gangguan jiwa di Aceh. Souza dalam penelitiannya th 2007 tentang status kesehatan jiwa korban tsunami mendapatkan 83,6 % masyarakat Aceh mengalami stress emosional dan 77,1 % dengan gejala depresi. Selain itu data yang dirilis Surya.co.id 28 Juli 2010 memperkirakan jumlah penduduk Aceh dengan masalah kesehatan jiwa hari ini mencapai 14.027 jiwa. Sekitar 8.355 orang telah mendapatkan pelayanan kesehatan, 289 masih berada dalam pemasungan dan 102 orang telah dibebaskan dari pasungan dan dikirim ke Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.

Tidak hanya itu, munculnya pernyataan RSJ di Harian Serambi Indonesia edisi 21 Nov 2010, tentang keluarga yang tidak mau menerima anggota keluarga yang telah dirawat di RSJ, walaupun mereka telah dinyatakan sembuh, terus memperuwet permasalah yang ada. Keterbatasan rumah sakit untuk menampung dan merawat pasien jiwa, jelas memerlukan suatu upaya cerdas dan brilian untuk mencari solusi guna mengatasi permasalah ini. Kita tidak ingin program bebas pasung yang dicanangkan gubernur berujung pada pelepasan pasien dari pasungan untuk kemudian berkeliaran di jalanan.

Menambah Rumah Sakit Jiwa

Pemerintah Aceh melalui Gubernur, maupun wakil Guberbur sering mewacanakan akan membangun 3 rumah sakit baru dalam upaya memperbaiki pelayanan kesehatan jiwa. Solusi ini sangat cerdas dan brilian karena menyentuh pokok permasalah yang dihadapi, sehingga penderita gangguan jiwa akan mendapatkan pelayanan yang lebih bagus. Namun rencana ini bisa juga memunculkan permasalahan baru, dimana untuk membangun 3 rumah sakit jiwa, dibutuhkan biaya besar dan butuh waktu 2 – 4 tahun lagi. Sedangkan mereka yang mengalami gangguan jiwa jelas tidak ada kata untuk menunggu, karena makin lama permasalahan dialami makin sulit upaya penyembuhannya. Untuk itu perlu dipikirkan alternatif yang murah, mudah dan bisa dilakukan dalam waktu yang relatif cepat.

Membuka Klinikk Psykiatri (Klinik Jiwa)

Klinik jiwa yang di Eropa sering disebut District Psychiatry Centre (DPS) bisa menjadi solusi. Kita bisa menggunakan rumah sakit umum didaerah dengan membuka ruang rawat yang dapat menampung 3 – 6 pasien jiwa. Atau bisa dengan mengalih fungsikan sebuah puskesmas rawat nginap menjadi klinik jiwa di kabupaten atau kota. Tenaga medis bisa menggunakan dokter umum yang telah diberi pelatihan khsusus menangani pasien dengan gangguan jiwa, sambil menunggu tenaga spesialis jiwa yang memadai. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan bisa dilakukan dengan kunjungan rutin para spesialis setiap 3 bulan sekali atau dengan menyediakan jasa konsultasi spesialis via telpon terhadap hal-hal yang emergensi. Tenaga keperawatan bisa diambil dari tenga perawat kesehatan jiwa masyarakat (CMHN) yang sudah mendapat pelatihan khusus paska tsunami untuk menangani para penderita gangguan jiwa. Mereka tersebar hampir diseluruh kabupaten kota di Aceh.

Solusi ini jelas dapat menghemat waktu dan menghemat biaya dan pastinya dapat memberikan pelayananan kesehatan jiwa yang dekat dengan para penderita gangguan jiwa. Sehingga pasiennya bisa tinggal di keluarga dan bila keadaan memburuk baru dibawa ke klinik jiwa untuk mendapat perawatan dan medikasi. Hal ini juga akan memandirikan keluarga dalam merawat pasien jiwa, sehingga kasus penolakan anggota keluarga seperti yang dikeluhkan RSJ akan jarang terjadi. Biaya operasional tentunya bisa dialokasikan melalui dana kesehatan masyarakat yang telah ada baik itu JKA maupun ASKESKIN.

Pusat Aktivitas Penderita Gangguan Jiwa (Dag Centre)

Stigma merupakan masalah besar yang dihadapi penderita gangguan jiwa di Aceh. Masyarakat atau media sering menyebut mereka dengan ”orang putus kawat”, ”ureung hana bereh” atau bermacam label negatif lainnya. Kenyataannya, secara tidak disadari hal ini telah menjauhkan penderita dari lingkungan masyarakat.

Masyarakat sering memilih menjauh dari pendrita, apa lagi mereka pernah dirawat di RSJ. Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, karena mereka tidak punya pengetahuan apa itu penyakit jiwa dan bagaimana menhadapi mereka. Masyarakat hanya tau, bahwa mereka bisa kena bogem gratis atau kena bacok bila bersama penderita gangguan jiwa.

Semua label dan stigma negatif tentang mereka jelas mempersulit penderita untuk berintegrasi dalam masyarakat, kerluarga pun sering malu memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Sehingga penderita merasa terkucilkan dan hal ini sering menjadi faktor pencetus kekambuhan kembali.

Untuk melawan stigma dan meningkatkan kemampuan pasien jiwa berintegrasi dalam masyarakat. Norwegia mendirikan berbagai pusat aktivitas pasien jiwa yang tersebar diseluruh kabupaten dan kota madia. Tujuanya sederhana saja, memberikan sebuah tempat kepada kepada penderita untuk berkumpul dan berinteraksi sesama mereka, meningkatkan kemampuan aktivitas hidup harian, memotivasi mereka untuk berintegrasi dengan masyarakat serta meningkatkan rasa percaya diri, bahwa mereka masih berarti buat dirinya sendiri dan buat orang lain.

Kegiatan tambahan yang sering diberikan adalah meningkatkan live skill, misalnya pelatihan kerja seperti pertanian, pertukangan, benkel dll. Petugas juga berusaha mencari tempat untuk mereka bekerja, tapi mereka masih dalam pengawasan petugas di dag centre. Untuk memotivasi para majikan supaya menerima mereka, sering pada awalnya sebagian gaji ditanggung pemerintah sampai mereka mahir.

Aktivitas seperti ini terbukti telah mengurangi angka kekambuhan secara signifikan. Karena menurut mereka obat bagi pasien jiwa hanya berfungsi menurunkan gejala, tapi yang membuat mereka normal adalah interaksi sosial, pekerjaan, ekonomi, kemandirian dan kepercayaan diri. Malah pemerintah Norway membuat perusahan berskala kecil yang memproduksi makanan, kerajinan tangan dan pertanian untuk mempekerjakan penderita dengan gannguan jiwa. Di tempat kerja mereka selalu dalam pengawasan petugas kesehatan.

Memperkuat organisasi

Di Aceh mungkin orang belum percaya bahwa keluarga dan penderita gangguan jiwa juga punya kemampuan berorganisasi untuk memperjuangkan aspirasi kelompok mereka. Tapi dibeberapa negara Eropa, Amerika dan Australia organisasi penderita gangguan jiwa sudah tidak asing lagi.

Disana organisasi penderita gangguan jiwa dan organisasi keluarga penderita gangguan jiwa telah terbukti mampu berbuat sangat signifikan baik dalam hal pengumpulan dana, mempengaruhi kebijakan, memerangi stigma, mempromosikan kesehatan jiwa sampai dengan mendukung dan membantu pemerintah dalam perencanaan pelayanan kesehatan jiwa.

Penguatan organisasi ini perlu sehingga kesehatan jiwa tidak lagi hanya sebagai objek politik yang diangkat hanya dalam skala tahunan ketika kampanye. Pemantauan langsung kebijakan pemerintah oleh mereka yang punya kepentingan langsung terhadap kesehatan jiwa akan memberi arti penting dalam membenahi pelayanan kesehatan jiwa di Aceh.

Kesimpulan

Ada bayak hal yang bisa kita lakukan untuk memberdayakan penderita dengan gangguan jiwa yang sering kita anggap orang tidak beres dan mungkin sering menjadi sampah masyarakat. Kadang keluarga dekat mereka pun menganggap mereka telah hilang. Kita sering melihat mereka berkeliaran di jalanan, mangais rezeki dari sampah-sampah yang terbuang, mengharap belas kasihan. Kita kadang lupa bahwa mereka dulu mungkin para pejuang baik untuk Aceh tercinta atau keluarga mereka sendiri. Jangan pernah berfikir bahwa mereka hidup dalam kesenangan.

Buang jauh-jauh anggapan bahwa mereka bahagia dunia akhirat. Mereka sebenarnya sangat mengharapkan uluran tangan, bukan belas kasihan. Bertahun-tahun mereka hidup dalam kegelisahan, rasa curiga, putus asa, dan mungkin mereka menganggap diri mereka telah mati. Mari kita merenung sejenak, kalau kita berada diposisi mereka. Mari berfikir bagaimana mereka bisa hidup lebih layak jauh dari stigma negatif, sehingga mereka tidak menjadi bom waktu yang satu saat akan mencelakai diri kita dan keluarga kita.

Semoga tulisan ini menggerakkan nurani kita untuk memperlakukan penderita gangguan jiwa sama dengan penderita penyakit lainnya. Harapan untuk pak Gubernur, jiwa anda adalah jiwa mereka, anda sudah banyak berbuat untuk mereka, doa mereka kemenangan anda, amin…

Aiyub Ilyas adalah Mahasiswa Hedmark Univesity College Norwegia dan salah seorang anggota WAA

Mengubah Perspektiv Dalam Membangun Kesehatan Jiwa di Aceh
Rate this post
0

Comments

comments


Loading...

22. November 2017

Clear all