Bansigom Donja keu Aceh

Selamat Hari Raya Sebagai Sebuah Renungan

Selamat Hari Raya Sebagai Sebuah Renungan
Rate this post
.”]Oleh: Tgk Bustami Ibrahim

AMERIKA – Terlebih dahulu saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha (Qurban) kepada seluruh warga aceh diseluruh dunia yang masih bersedia meluangkan Waktunya untuk kepentingan bersama demi kemajuan tanah endatu kita yang telah di wariskan kepada kita semua, mudah mudahan kita bisa menjadi salah seorang yang dibangakan oleh pendahulu kita.

Saudara ku marilah kita renungkan betapa susah nya nenek moyang kita dalam menwujudkan sebuah kota raja(Aceh) dari hutan belantara, sehinga sekarang kita bisa menikmati kota tersebut.

Saudara ku,
Ya, mari juga kita merenungkan sejenak pejuang-pejuang kita yang telah mati syahid demi membela kebenaran di tanah Aceh tercinta, dari kemungkaran dan kezaliman, mereka rela melepaskan hartanya keluarganya demi kepentingan kita semua, maka dari itu lakukanlah dan perbuatkanlah apa saja yang bisa berguna dan menguntungkan rakyat aceh dan tanah aceh yang telah di perjuangan oleh pejuang tercintakita.

mari luangkan waktu kita walaupun sedetik untuk kepentingan organisasi dan kepentingan rakyat aceh, inyaAllah kita juga akan menjadi sorang pahlawan bangsa yang di hormati dan di hargai oleh rakyat aceh.

Pernah membaca kisah tentang perang Tabuk, saudaraku? Sebuah peperangan yang terjadi di saat musim paceklik dan pasukannya dinamakan jaisyul usrah atau pasukan yang dibentuk di saat yang sulit. Perang Tabuk yang terjadi pada tahun 8 Hijriyah itu terjadi di saat kondisi panas menyengat, dan di sisi lain, masyarakat ketika itu sedang menanti waktu panen buah yang diperkirakan tidak lama lagi. Sahabat Rasulullah saw dan Umar bin Khattab radhiallahu anhu menyerahkan separuh dari hartanya, sedangkan Utsman radhiallahu anhu menyerahkan 300 unta dan 1000 dinar.

Saudaraku,
Hadirkanlah bayangan kita saat-saat  mobilisasi jihad ke Tabuk menghadapi pasukan sekitar 4000 pasukan Romawi itu terjadi. Bagaimana para sahabat di bawah terik matahari memenuhi panggilan Rasulullah saw dan keadaan yang meletihkan. Bagaimana mereka mengabaikan saat datangnya musim buah yang segera tiba, di tengah haus. Bagaimana mereka menepis bayangan kenikmatan tinggal bersama istri di rumah. Bagaimana mereka melepaskan kerinduannya dengan anak-anak. Mereka semuanya keluar menuju panggilan Rasulullah saw untuk menyongsong perang besar.

Saudaraku,
Para mufassir menerangkan bahwa ada sejumlah sahabat Rasulullah saw yang termasuk orang-orang faqir sehingga mereka tidak mempunyai peralatan untuk berjihad. Mereka datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak ada apa-apa untuk berjihad.”  Mata mereka lalu bercucuran air mata karena sedih yang sangat mendalam (Lihat surat At Taubah ayat 92).  Itulah perasaan mereka.  Hancur-luluh, sedih, merana.

Bagai teriris sembilu hati mereka manakala derak pasukan berangkat dan suara onta melenguh gembira menuju Tabuk.  Sedih sebagai orang yang tak mampu, sebagai orang yang tak berguna, sedih sebagai orang yang rela duduk, sedih sebagai orang yang bodoh melepaskan kesempatan mulia.  Maka Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang ridha terhadap perasaan mereka dan Allah swt mengampuni mereka, karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tulus.

Saudaraku,
Berpikirlah dan merenunglah tentang perjalanan ini. Sebagaimana inti wasiat Rasulullah tentang hidup dan mati yang terdapat dalam do’a yang diucapkan setelah kita tidur. Kata Rasulullah saw,  “Jika salah seorang kalian bangun dari tidur, katakanlah: “ Alhamdulillah yang telah mengembalikan ruhku kepadaku, menyehatkan tubuhku dan mengizinkan aku untuk berdzikir kepada-Nya.” (HR. Turmudzi)

Saudaraku,
Suatu saat, bila kita mengiringi janazah atau melakukan ziarah kubur. Diam dan jangan banyak bicara. Berhentilah di hadapan sebuah kuburan. Resapilah bagaimana kesempitan liang lahat. Bayangkanlah bila kita berada di dalamnya. Semua pintu yang tertutup, lalu gundukan tanah yang menimbun di atasnya. Tak ada keluarga, tak ada sahabat. Gelap, sunyi senyap dan mengerikan. Tak ada yang bisa kita dapatkan di sana, kecuali amal  yang telah kita lakukan.  Renungkanlah, harapan dan keinginan orang-orang ada di dalamnya.

Ingatlah apa harapan dan keinginan orang-orang yang telah ada di dalamnya. Lalu, tanamkan tekad untuk memanfaatkan kesempatan hidup untuk lebih banyak berdzikir pada Allah. Bila tercetus dalam benak dan hati untuk melanggar  perintah Allah, ingatlah apa harapan dan keinginan orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan ini. Saat kita dibelenggu rasa malas melakukan amal shalih, ingatlah, apa harapan dan keinginan orang-orang yang telah mati. Mereka sangat ingin kembali dan melewati hidup sejenak dalam taat kepada Allah.

Saudaraku,
Shalat adalah akhir wasiat Rasulullah saw menjelang wafatnya. Dan shalatlah yang menjadi akhir hilangnya Islam dari sebuah masyarakat. Shalat juga, masalah pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba di hari kiamat di hadapan Allah swt Yang Maha Mengetahui.

Akhir kata dari saya dan inti dari renungan diatas mari kita kuatkan tali persaudaraan kita dan tuangkan waktu anda walaupun sedetik dan lakukan yang terbaik bagi saudara saudar kita di aceh dan family kita.

Tgk. Bustami Ibrahim adalah Aktivis World Achehnese Association (WAA) berdomisili di Amerika

Selamat Hari Raya Sebagai Sebuah Renungan
Rate this post
0

Comments

comments


Comments to Selamat Hari Raya Sebagai Sebuah Renungan

Loading...

18. October 2017

Clear all