Bansigom Donja keu Aceh

Sumbangan WAA Kembali di Antar ke Gumpang

Sumbangan WAA Kembali di Antar ke Gumpang
Rate this post
Dirumah kediaman Nyak Rahsia, Gambar di Ambil Pada Minggu 03 Mei 2009.[Foto Firdaus/KMPD].

WAA News – Minggu 10/05/2009

Laporan Perjalanan ke Rumah Nyak Rahsia

ACEH – Hari Minggu 3 mei 2009, jam 9.00 Waktu Aceh, saya “Firdau Ismail” dan teman-teman berangkat ke Gampong Pulo lhok kemukiman Bangkeh, kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, untuk menyerahkan sumbangan yang dikirim oleh World Achehnese Association (WAA) sejumlah Rp.1.444.600. Adapun yang ikut serta kesana yaitu Nuruzzahri, Zainuddin, Saipannur, Idris Kasem, M. yani dan Musliadi. Kami memakai sepeda motor untuk mencapai rumah Nyak Rahsia.

Setelah memakan waktu sekitar 5.00 jam kami baru sampai di Gampong Blang dhot, kecamatan Tangse. Kamipun istirahat sejenak sambil makan siang. Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi, jalan yang kami lalui tidak semulus jalan Medan-Banda Aceh, ditempat tertentu jalan yang dipakai hotmik itu sudah rusak, lagi pula banyak bukit dan tikungan tajam yang mesti dilalui, maklum namanya saja kawasan pegunungan ujeuen.

Sesuai dengan namanya pegunungan Ujeuen sehingga kadang-kadang kami terjebak dengan hujan local, dan sesekali kami mampir kewarung terdekat untuk menunggu hujan reda, tapi bila kita mampu melewati kawasan hujan tersebut sekitar 2 KM (kilo meter) maka hujan pun sudah tidak ada lagi, atas alasan itulah sehingga saya sebut hujan local. 

Rupanya dikawasan itu juga banyak sarang lebah, dan lebah itu berputar-putar dijalan yang kami lalui, sehingga teman-teman semua digigit lebah, Cuma saya “Firdaus” dan Idris yang tidak sempat digigit karena kami sempat paling kebelakang.

Tepatnya di gampong Alue landong kecamatan Mane, ban sepeda motor yang ditumpangi Saipan kempes. Dan sepeda motor didorong kira-kira 1 Km (kilo meter) untuk mencapai bengkel tempel ban.

Sekitar jam 4 sore selesai ditempel ban dan kami berangkat lagi. Ketika sampai dikota Geumpang-Sigli, kami beli 1 sak beras dan Indomie untuk diserahkan kepada Nyak Rahsia karena tidak jauh lagi akan sampai kerumahnya.

Foto Bersama, Dari kiri kekanan (Belakang): M. Yunus (Kepala duson Tanoh Mirah, pulo lhok), Nuruzzahri, Zainuddin, Muliadi, M. Basyah Ali (pemandu ke rumah Nyak rahsia), M. yani, Usman (Tetangga Nyak rahsia), Saipannur. Dari Kiri ke kanan (Depan): Junaidi (anak dari kakak Nyak rahsia), Firdaus, Gambar di Ambil Pada Minggu 03 Mei 2009.[Foto Firdaus/KMPD] .

Ketika kami sampai di gampong Pulo lhok, kami menanyakan rumah Nyak rahsia pada seorang pemuda gampong tersebut, dia memakai baju warna hitam yang bertulis Partai Aceh yang kemudian saya kenal namanya M. Basyah Ali, dan kami meminta bantuannya untuk mengantar kami kerumah Nyak rahsia.

Tepatnya jam 5 Sore sampailah kami dirumah yang ditempati Nyak rahsia, kami disambut oleh tetangganya yang kebetulan dia anak dari kakak Nyak rahsia. Kamipun dipersilakan masuk kedalam, setelah di ketahui maksud kedatangan kami.

Sampai didalam rumah kami berjabat tangan dengan Nyak puleh dan Ibunya (Nyak Rahsia) serta semua keluarganya yang berada dirumah tersebut. Dan diantara keluarganya juga hadir kepala dusun tanoh mirah. 

Kami sepkat meminta bang Zainuddin (teman kami yang tertua diantara semuanya) untuk mengawali pembicaraan dan menyampaikan maksud kedatangan kami, dan kami pun mewakilkan kepada bang Zainuddin untuk menyerahkan amplop yang berisi uang Rp. 1.400.000.- kepada Nyak rahsia dan disusul penyerahan beras satu sak serta indomie 1 kardus.

Saya”Firdaus”  memperhatikan rumah tiang yang ditempati Nyak rahsia, rumahnya tidak dipakai listrik, berdinding papan, beratap seng , dan ukuran rumah sekitar 5 x 6 m, tetapi yang mereka tempati hanya lantai bawah saja yang tidak bersmen, sementara ruang diatas tidak difungsikan lagi karena sudah tidak ada papan lantai, dan mereka pun lebih nyaman tinggal dibawah.

Dan ukuran kamar dibawah yang mereka tempati sekitar 2,5 meter lebar dan panjang sekitar 6 m, hanya ada satu tempat tidur  untuk Nyak Puleh dengan ibunya, dan satu lagi tempat tidur kakak Nyak Rahsia. Kemudian disamping pintu ada tempat duduk yang dibuat dari kayu seadanya. 

Timbul pertanyaan dari benak saya kenapa sangat berbeda rumah ini dengan yang diceritakan sebelumnya di surat kabar, artinya rumah ini sudah berdinding papan dan beratap seng.

Kemudian saya menanyakan pada keluarganya, dan dia mengatakan bahwa mereka pindah kesini setelah menjalanani perawatan di Rumah sakit umum Sigli beberapa  hari yang lalu.

Kalau dulu mereka tinggal  di dusun Pucok Bungo dan sekarang pindah ke dusun Tanoh Mirah tetapi masih gampong pulo lhok juga. Dalam perbincangan kami dengan keluarganya menceritakan bahwa Nyak Puleh menderita sesak nafas dan penyakit kulit (gatal-gatal)  makanya dibawa kerumah sakit, karna sudah ada kartu JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) sehingga tidak perlu memakai biaya untuk perawatan dirumah sakit.

Tapi karena Nyak puleh tidak pernah menjalani perawatan sampai dipasang jarum infus, maka dia tidak tahan dirumah sakit dan tidak mau dipasang infus, lalu keluarganya membawa pulang dia biarpun belum sembuh.

Adapun sakit lumpuh yang diderita sudah puluhan tahun tidak sanggup lagi mereka obati lantaran sudah sangat lelah berobat tapi tak kunjung sembuh, biarpun sangat menginginkan penyakit lumpuh tersebut bisa sembuh, makanya mereka pasrah dengan segala cobaan yang dihadapi saat ini. Dan yang menjaga Nyak Rahsia dengan anaknya sekarang yaitu kakaknya Nyak rahsia.

Sementara perhatian dari pihak pemerintah sudah mulai ada yaitu dikasih duit sekitar Rp.6.000.000.- dengan cara pengambilannya Rp.500.000.- per bulan untuk biaya hidup. Dan keluarganya juga menceritakan bahwa World Achehnese Association (WAA) di Denmark juga pernah memberikan bantuan berupa uang dan beras sebelumnya.

Katanya bantuan itu diantar oleh Adnan yang beralamat di Bireum, Aceh Timur. Dan mereka tidak tau persis siapa sebenarnya pengantar bantuan tersebut.

Selanjutnya kami diminta oleh keluarganya untuk masuk kerumah anak dari kakak Nyak rahsia untuk minum kopi, dan bila dihidangkan ditempat ini tidak mungkin karena kamarnya sangat sempit. Dan kami pun keluar sebentar untuk mencicipi hidangan kue dan kopi yang telah disediakan oleh keluarganya.

Selesai minum kopi kami minta izin karena waktu sudah mulai malam, sebelum pulang kami sempat foto bersama dengan latarnya rumah yang ditempati Nyak rahsia sekarang. Kemudian saya”Firdaus” dan teman-teman pulang.

Dalam perjalanan pulang juga tidak terlepas dari hujan local, dan kami pun sempat singgah dikota Gempang untuk menunggu hujan reda.

Kami melanjutkan perjalanan lagi, sekitar pukul 7.15 malam, kini giliran ban sepeda motor bang Zainuddin kempes, tidak ada satu pun bengkel yang dekat disitu, mak terpaksalah juga menaiki sepeda motor yang kempes itu, karena hari sudah malam dan tidak mungkin mendorongnya lagi.

Ketika itu kami masih ditengah-tengah pegunungan Ujeuen, sekitar 5 km (kilo meter) jarak yang kami tempuh baru ada bengkel tapi pemiliknya tidak, dan kami pun harus menunggu sampai bengkel dibuka. Bengkel tersebut tepatnya di gampong Krueng Meuriam.

Setelah selesai ditempel ban kami melanjutkan perjalanan. Tepatnya didepan SMP N (Sekolah Menengah Tingkat Pertama Negeri) 1 Tangse, sepeda motor Saipan kempes lagi, dan kebetulan ada bengkel disitu. Setelah selesai ban ditempel, kami melanjutkan perjalanan lagi.

Sekitar jam 11 malam kami sampai di kota  kecamatan Ulim Pidie Jaya, kamipun singgah disitu untuk makan malam, selesai makan malam kami melanjutkan perjalanan lagi, tepatnya jam 1.00 malam saya dan teman-teman sampai di kantor KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) Bireuen.

Perjalanan ini sangat melelahkan bahkan ada teman kita yang sakit akibat kelelahan perjalanan jauh. Dan ada teman yang bilang bahwa lebih enak ke Banda Aceh dari pada ke Gempang.

Tapi biarpun lelah ada manfaatnya, selain bisa bersilaturrahmi juga bisa menikmati keindahan pegunungan ujeuen yang dikelilingi oleh sungai yang indah, hanya sayangnya kamiberangkat sedkit telat yaitu jam 9.00 dari Bireun,  tapi andai kata kami pergi Jam 7 pagi tentunya ada sisa waktu barang 2 jam untuk mampir di air terjun dan sungai Tangse untuk menikmati keindahannya yang cukup alami, mudahan saja ada lagi kesempatan untuk kesana.

Note: sedekah (sumbangan) susulan yang di kirim World Achehnese Association (WAA) kepada Nek Rahsia di Aceh pada selasa 28 April 2009, jam 17:12 waktu Denmark, sejumlah 935.00 Krone (termasuk biaya pengiriman) sudah tiba di Gumpang.

Pengiriman uang kali ini adalah melalui salah seorang aktifis KMPD Firdaus Ismail. Uang di hantar langsung kepada Nek Rahsia dan anaknya Nyak Puleh.

Nek Hassan “Bendahara WAA -red” mengharapkan kepada para aktivis WAA untuk terus memupuk atau meningkatkan rasa kepedulian kita dalam membantu sesama, apalagi masyarakat Aceh yang sangat memerlukan bantuan dari semua pihak! maka bukalah tangan kita untuk mereka.

Walaupun sumbangan kita tidak terlalu besar tatapi itu sudah cukup sebagai salah satu bukti rasa kepedulian kita para Aktivis WAA dalam membantu sesama.

KMPD Bireun turut serta menyumbang bersamaan dengan penhantaran sumbangan WAA. Dana KMPD Bireuen turut di gunakan untuk membeli beras dan Indomie dan biaya makan dalam perjalanan. Sementara biaya Transportasi adalah sumbangan pribadi masing-masing para aktifis KMPD yang ikut serta dalam misi ini.[Tarmizi Age]

Sumbangan WAA Kembali di Antar ke Gumpang
Rate this post
0

Comments

comments


Loading...

17. December 2017

Clear all