Bansigom Donja keu Aceh

Warga Denmark Tertarik Mendengar Tentang Aceh

Rate this post
Pernille, Left Aarup dan Adi Alamsyah [Foto Adi/Waa]

WAA News – Selasa 31/03/2009

DENMARK – Adi begitulah nama yang di panggil oleh teman-teman Aceh di Denmark kepadanya. Adi yang berasal dari Ulee Gle, Aceh, mulai menetap di Denmark sejak 3 tahun yang lalu. Pada awalnya Adi tinggal di Skagen, Nordjyllan, Denmark, namun dalam tahun-tahun terakhir ini Adi pindah alamat ke Odanse/Fyn, kota nomor tiga (3) terbesar di Denmark. Letak Odanse hanya memakan masa sekita 2 jam perjalanan menaiki mobil dari Kopenhagen ibu kota Denmark.

Setelah orang-orang Aceh di terima untuk tinggal di Denmark atas alasan kemanusia, ketika konflik antara Aceh – Indonesia berkecamuk, semakin banyak warga Denmark yang ingin tau tentang Aceh. Misalnya, pada minggu 29 Maret 2009, seoran warga Denish (Denmark) yang masih tergolong gadis, dengan sengaja minta bertemu dengan Adi. Kedatangan gadis tersebut yang belakangan di ketahui bernama Pernille bersama ayahnya di sambut oleh Adi dengan ramah.

Pada mulanya saya sedikit terkejut, ada apa ini, kenapa dia mau bertemu saya. Namun setelah di beritau semuanya saya pun lega, rupanya Ayah Pernille yang bernama Left Aarup adalah salah seorang pekerja Social untuk pendatang Aceh di Denmark, dan saya pernah menemuinya sekitar setahun yang lalu ketika dia datang kepada saya untuk bertanya tentang kehidupan orang Aceh di Denmark tulis Adi.

Pernille adalah pelajar di sebuah Universitas di Denmark, mempunya misi kusus menemui saya, ia perlu menyelesaikan tugas dari sekolahnya menyangkut tentang agama dan budaya, sekaligus untuk menjadi bahan perbandingan budaya di Danmark dengan budaya di Aceh.

Ketika kami sudah duduk di sebuah meja, tepatnya di rumah Kak Lina sebuah keluarga yang juga mendapat suaka di Denmark. Pernille melemparkan berbagai pertanyaan kepada saya.

Pertemuan yang dimulai pada jam 12.00 tengah hari dan berakhir pada jam14.00 petang cukup bermakna bagi saya. Saya merasa gembira sudah dapat memperkenal Aceh kepada seorang lagi yang baru.

Kita lanjut cerita bersama Pernille. Sebelum beberapa pertanyaan berlanjut, Saya betanya kenapa harus mendapat informasi tentang Aceh ?, kan banyak pelarian lain di Denmark yang islam seperti Irak, Afganistan, Somalia, Turki dan Arabi nyambung Adi seperti yang di tulis kepada WAA.

Jawaban Pernille begini. Ayah saya sudah empat (4) tahun bekerja dengan badan sosial untuk orang Aceh, jadi sedikit sebanyak saya sudah tau tentang Aceh. Bahkan menurut ayah saya budaya orang Aceh bagus sekali, begitu juga dengan agama islam yang di anuti oleh orang Aceh sangat bagus, tidak menyinggung agama lain, jadi saya sangat menarik mendengarnya cerita ayah sebut Pernille.

Nah, sekarang saya mau tanya sama kamu tentang kerja kamu di Danmark. Kamu orang islam kan. Bagai mana dengan kerja kamu sebagai tukang masak di restoran?. Menu nya sudah tentu banyak sekali, dari daging lembu, daging kambing, daging ayam bahkan termasuk dengan daging babi dan juga hal-hal lainnya.

Bagai mana kalau tamu pesan daging babi, apakah mau di masak atau kamu tolak langsung, kamu tidak mau bekerja. Saya menjawab, saya tidak perlu menolak begitu. Jika ada hal-hal begini akan panggil cefen (bos), saya beritau dengan baik, yang bahwa saya tidak boleh memegang daging babi, karena saya orang islam. Bos pun tidak marah, dia boleh panggil orang lain untuk masak daging babi. Saya tidak patut tidak tidak mau menolak langsung juga memiliki alas an lain, bahkan saya tidak mau orang Denmark tidak senang melihat Islam, apalagi bagi orang Denmark babi sudah menjadi salah satu makanan yang di gemarinya.

Pernille melanjutkan pertanyaan bagai mana di Aceh kalau kamu jadi takang masak, ada daging babi di restoran ?. Saya bilang tidak, tidak ada restoran yang ada daging babi di Aceh, kecuali di hanya di restoran cina itu pun sangat sedikit.

Bayak kah orang lain selain orang islam di aceh ?. Bayak juga, tapi yang namanya orang Aceh itu sudah pastinya dia itu islam.

Di akhir pembicaraan Pernille beralih topic tantang demokrasi di Aceh. Bagaimana tentang demokrasi sekarang di aceh ?, sudah mulai berjalan baik setelah adanya perdamain Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia pada 15 agustus 2005 yang lalu di Helsingki, Finlandia , tapi belumlah sepunuhnya seperti di Denmark, karena Aceh kan baru saja selesai dari perang dan tsunami, jadi sekarang tengah berjalan sedikit demi sedikit.

Kamu sudah lama menetab di Danmark, bagai mana menerut kamu lihat tentang partai-partai politik di Danmark, demokarasi atau tidak ? Dan bagai mana dengan di Aceh ?. Saya melihat cukup demokratis di danmark, salah satu contohnya partai mana saja tidak memburuk-burukkan partai lain, Cuma mereka berjanji ke pada masyarakan ketika kempanye, misalnya untuk membangun ekonomi kedepan yang lebih baik, ketika menang di laksanakan, tapi kalau di Aceh tidak begitu.

Seperti sekarang misalnya , di Aceh sudah ada partai lokal, tapi ada yang iri melihatnya sehingga ada yang membakar kantor partai lokal, sehingga kepada memburuk-burukkan partai lain itu yang saya bilang belum demokratis sepenuh nya,tulis Adi salah seorang aktivis WAA di Denmark kepada situs ini. [Tarmizi Age]

Rate this post
0

Comments to Warga Denmark Tertarik Mendengar Tentang Aceh

Loading Facebook Comments ...
  • Assalamu’alaikum Wr. Wb. !
    Pue Haba Sjedara
    Kiban hai walakahai disinan

    Rizal 4. April 2009 18.07 Reply
  • Assalamu’alaikum Wr. Wb. !
    Pue haba Rakan meutuah………..
    Pue manteung meunjum kuah pliek disinan………….

    Rizal 4. April 2009 18.09 Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...