Bansigom Donja keu Aceh

Warga Pusong Deklarasikan Rehab-Rekon Hijau

Warga Pusong Deklarasikan Rehab-Rekon Hijau
Rate this post
Anak-anak SDN Teulaga Tujoh yang tergabung dalam ECO Group bersama aktivis lingkungan hidup dari Aceh Wetland Foundation (AWF)mendeklarasikan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Hijau Pulau Pusong [Foto/Dok/AWF].

WAA News – Jumat 23/04/2010

Semoga Rahmat Ilahi Menyertai Kita Semua
Siaran Pers

Peringati Hari Bumi ke-40
Warga Pusong Deklarasikan Rehab-Rekon Hijau

LANGSA – Warga Gampong Teulaga Tujuh atau sering disebut juga Pulau Pusong mendeklarasikan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Hijau Pulau Pusong, Kamis (22/4). Kegiatan yang diprakarsai aktivis lingkungan hidup dari Aceh Wetland Foundation (AWF) itu dalam rangka memperingati Hari Bumi ke-40. Warga berharap, deklarasi ini menjadi perhatian dari berbagai pihak tentang kondisi Pulau Pusong yang sangat kritis.

Juru Kampanye AWF, Khairun Nufus mengatakan, peringatan Hari Bumi pertama kali dilaksanakan pada 22 April 1970 Senator Nelson. Nelson adalah orang yang pertama memprakarsai Hari Bumi dan mendapat penghargaan Presidential Medal of Freedom-kehormatan tertinggi yang diberikan kepada warga sipil di Amerika Serikat untuk perannya sebagai pendiri Hari Bumi. Bumi dianggap semakin parah akibat polusi udara, zat kimia yang tidak bisa terurai yang membuat bumi rusak.

“Melalui momen itu, kami mengajak semua pihak menjadi bagian dari sejarah untuk masa depan bumi yang lebih baik,” kata Nufus.

Dikatakannya, deklarasi hijau masyarakat Pusong itu dilakukan atas sikap keprihatinan masyarakat sendiri terhadap abrasi yang kian mengganas–akibat menipisnya habitat hutan bakau. “Deklarasi hijau ini juga untuk menggugah para pengambil kebijakan untuk lebih peduli kepada daerah terpencil dan tertinggal,” tambah Nufus.

Ditambahkannya, isu pemanasan global juga telah memberi dampak negatif bagi Pulau Pusong, karena peningkatan volume air. “Isu ini juga harus menjadi masukan kepada pemerintah untuk segera bertindak (emergency) bagi daerah kritis seperti Pulau Pusong,” tambah Nufus.

Menurut Nufus, solusi pembangunan pulau ini bisa dilakukan dengan membangun tanggul pemecah ombak hingga selesai, reklamasi, dan greenbelt (pembentukan kawasan hijau menjadi hutan penyangga–yang menjadi salah satu kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Pusong merupakan gugusan pulau tempat habitat mangrove, berbagai jenis satwa, dan tempat paru-paru hijau ekosistem Kota Langsa yang memberi ruang pergantian udara bagi sebuah kota. Gugusan pulau ini juga mampu meredam terjangan ombak dan angin serta mampu menampung debit air serta jalur ekonomis yang utama bagi daerah maritim. “Tapi hari ini,  pada 22 April 2010 saat semua aktivis lingkungan hidup memperingati Hari Bumi. Gugusan pulau ini semakin memprihatinkan. Sampah berhamparan di akar-akar bakau bekas ditebang. Limbah-limbah industri, rumah tangga, limbah tambak masyarakat juga memenuhi wilayah kepulauan yang didiami sekitar 2.500 atau 400 KK.

“Suara kita akan menentukan seberapa besar perubahan akan kikta wujudkan. Dengan upaya ini, kami kingin menunjukkan kepada dunia bahwasanya kita mampu menyelamatkan bumi, demi kehidupan yang lebih baik bagi bumi ini ,” pungkas Khairun Nufus.

ECO Group
Dalam kesempatan tersebut, para aktivis AWF juga membentuk ECO Group (kelompok cinta lingkungan) dari anak-anak sekolah SDN Teulaga Tujoh. Anak-anak menjadi pioneer penanaman perdana 40 batang pohon bakau. “Kami sangat suka pekerjaan ini. Kami juga bisa lebih tahu tentang lingkungan kami,” kata Ketua ECO Group, Fakhrulrazi.

Ketua Panitia Pelaksana, Hafiddun mengatakan, kegiatan yang dilakukan adalah merupakan tindakan sukarela yang dilakukan para relawan. Permintaan pembentukan kelompok lingkungan anak-anak sekolah adalah titik awal dalam mengkampanyekan Pulau Pusong yang hijau.

Sementara itu, ratusan warga Pulau Pusong menyatakan komitmennya untuk tetap bertahan di pulau tersebut. “Kami akan berusaha dengan berbagai cara untuk menyelamatkan tanah kelahiran kami,” kata Ketua Tuha Peut, Haji Azhar Abubakar.

Haji Azhar juga mengatakan, hingga kini pulau itu tidak ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Langsa kepada pulau ini. “Saat ini yang sangat kami butuhkan adalah penyelesaian tanggul pemecah ombak. Ini belum kita bicarakan soal listrik, air bersih, dan sanitasi. Semua masih sangat kekurangan,” kata dia.

Untuk itu, kata Haji Azhar, melalui anak-anak lingkungan hidup, warga Pusong menaruh harapan besar bagi pembangunan Pulau Pusong dengan konsep hijau. “Kami sangat berterima kasih atas keikhlasan yang dilakukan anak-anak AWF untuk menyelamatkan tanah kami dari kehancuran.

Kontak Person:
Juru Kampanye AWF
Khairun Nufus :

AWF adalah organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam bidang advokasi lingkungan hidup, dan berkantor pusat di Kota Langsa. Organisasi ini dideklarasikan pada 1 Februari 2010, yang bertepatan dengan Hari Lahan Basah (Wetland) se-Dunia.

Warga Pusong Deklarasikan Rehab-Rekon Hijau
Rate this post
0

Comments

comments


Comments to Warga Pusong Deklarasikan Rehab-Rekon Hijau

Loading...

18. October 2017

Clear all